Beberapa Hal Yang dibolehkan Ketika Berpuasa

Category : Islami

Dalam agama, Allah عز و جل menginginkan kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menginginkan kesulitan. Allah dan Rasul-nya telah membolehkan beberapa hal bagi orang yang berpuasa dan tidak menganggapnya sebagai suatu kesalahan yang dapat membatalkan puasa jika mengamalkannya. Dan diantara perbuatan yang boleh dilakukan bagi orang yang berpuasa adalah :

Sponsored Ad


1. Menyiram kepala dengan air, mandi atau berendam di dalamnya.
Di dalam hadits riwayat Abu Daud :

أَنَّ النَّبِيَّ رُئِيَ بِالْعَرْجِ وَهُوَ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنْ الْحَرِّ أَوْ الْعَطَشِ. رواه أبو داود وأحمد
“Bahwasanya Nabi صلى الله عليه و سلم di lihat di daerah araj, beliau menyiram air ke atas kepalanya karena panas dan haus dan beliau saat itu sedang berpuasa” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
Dan apabila air tersebut tidak disengaja tertelan maka puasanya tidak batal.
2. Memasuki waktu subuh dalam keadaan junub
Di riwayatkan dari Aisyah dan Ummu Salamah رضي الله عنهما:
 أَنَّ رَسُولَ اللهِ كَانَ يُدْرِكُهُ الْــفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يــَغْــتَسِلُ وَيـــَصُومُ. رواه البخاري و مسلم
“Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه و سلم memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’ dengan isterinya, kemudian ia mandi dan berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Bersiwak atau bersikat gigi
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :
 لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ. رواه البخاري و مسلم
“Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan berwudhu” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa bersiwak itu berlaku bagi bagi orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa karena Rasulullah صلى الله عليه و سلم tidak membedakan antara keduanya.
4. Berkumur dan istinsyaq
Rasulullah صلى الله عليه و سلم membolehkan kepada orang yang berpuasa untuk berkumur-kumur dan instinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) namun melarang untuk berlebih-lebihan ketika istinsyaq. Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :
 وَبــَالِغْ فِي اِلاسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا  رواه أصحاب السنن
“Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan berpuasa” (HR. Ashabussunan)
5. Bercengkrama dan mencium istri
Aisyah istri Nabi صلى الله عليه و سلم berkata :
 كَانَ النَّبِيُّ يُقَبِّلُ وَيـُــبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ ِلإِرْبِه. رواه البخاري و مسلم
“Adalah Nabi صلى الله عليه و سلم pernah mencium dan bercengkrama dalam keadaan berpuasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun bagi yang tidak dapat mengendalikan diri hendaknya tidak melakukan hal ini karena dikhawatirkan akan keluarnya mani yang dapat membatalkan puasanya, diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash رضي الله عنهما ia berkata :
كُــنَّـا عِنْدَ النَّبِيِّ فَجَاءَ شَابٌّ فَقَالَ : “يَا رَسُولَ اللهِ أُقَـبِّلُ وَأَنَا صَائِمٌ ؟ ” قَالَ : لاَ فَجَاءَ شَــيْخٌ فَقَالَ : “أُقَــبِّلُ وَأَنــَا صَائِمٌ ؟” قَالَ ”  نَعَمْ  قَالَ فَـنَظَرَ بَعْضُنَا إِلَى بَـعْضٍ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ  قَدْ عَلِمْتُ لِمَ نَظَرَ بـَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ إِنَّ الشَّــيْخَ يَمْلِكُ نَفْسَهُ رواه أحمد و الطبراني
“Kami pernah berada di sisi Nabi صلى الله عليه و سلم, maka datanglah seorang pemuda seraya berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah aku mencium (istriku) sedang aku dalam keadaan berpuasa?” Beliau menjawab : “Tidak”, kemudian datang pula seorang yang sudah tua dan dia berkata : “Ya Rasulullah, bolehkah aku mencium (istriku) sedang aku dalam keadaan berpuasa?”, beliau menjawab : “Ya”, sebagian kamipun memandang kepada temannya yang lain, maka Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda : “Sesungguhnya aku mengetahui maksud kalian saling memandang satu sama lain, ketahuilah bahwasanya orang tua (lebih bisa) menahan dirinya” (HR. Ahmad dan Ath Thabrani)
6. Bercelak, tetes mata atau selainnya yang di masukkan ke mata
Benda-benda ini tidak membatalkan puasa karena mata tidak mempunyai hubungan sampai tenggorokan.
7. Mencicipi makanan
Hal di perbolehkan selama makanan tersebut tidak sampai ketenggorokannya, berkata Ibnu Abbas رضي الله عنهما:
“Tidak mengapa mencicipi sayur atau sesuatu yang lain dalam keadaan berpuasa selama tidak sampai ketenggorokan” (R. Bukhari secara Mua’llaq)
8. Berbekam
Berbekam atau mengeluarkan darah kotor dari tubuh semula merupakan salah satu dari pembatal puasa, namun kemudian hukum ini di hapus berdasarkan hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما ia berkata :
 احْتَجَمَ الـنَّبِيُّ وَهُـوَ صَائِمٌ رواه. البخاري و مسلم
“Adalah Rasulullah صلى الله عليه و سلم berbekam, padahal beliau sedang berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim)
9. Menelan ludah tidak membatalkan puasa, karena tidak ada dalil tentang batalnya puasa karena menelan ludah.
10. Orang yang mimisan (hidung berdarah) puasanya tetap sah, karena mimisan itu timbul bukan atas dasar kehendaknya
11. Mencuci telinga atau memasukkan tetesan ke dalam hidung atau oksigen yang dimasukkan melalui hidung apabila bagian yang masuk tenggorokan tidak di telan
12. Pil-pil pengobatan yang diletakkan di bawah lidah untuk pengobaan sariawan atau lainnya selagi dapat di hindari masuknya ke dalam ternggorokan
13. Penggunaan obat kumur tidak membatalkan puasa selagi tidak di telan. Dan orang yang menambal lubang giginya lalu rasa benda itu ada di tenggorokan maka hal itu tidak merusak puasanya. Demikian pula dengan melobangi gigi atau mencabut gigi.
14. Suntikan yang bukan sebagai pengganti makanan atau minuman akan tetapi hanya untuk pengobatan seperti suntikan penisilin, insulin atau suntikan imunisasi maka hal tersebut tidak membatalkan puasa, baik obat itu disuntikkan keotot ataupun pembuluh darah, namun sebaiknya hal itu dilakukan di malam hari sebagai sikap hati-hati.
15. Oksigen buatan yang dilakukan di mulut asal di hindari tertelannya sesuatu di dalam tenggorokan
16. benda-benda yang diserap kulit seperti bahan cairan atau minyak angin atau benda lainnya yang mengadung bahan medis atau kimia
17. Pengambilan darah untuk kepentingan pemeriksaan tidak membatalkan puasa
18. Cuci darah (hemodialisa) yang mengaharuskan di keluarkannya darah secara keseluruhan untuk di bersihkan kemudian dikembalikan lagi dengan ditambah bahan kimia dan suplemen seperti zat gula, garam atau lainnya, maka hal ini tidak dianggap membatalkan puasa. Namun hendaknya dokter muslim selalu memberi nasehat kepada pasien untuk menunda hal tersebut sampai waktu berbuka tiba, karena hal yang dimikian lebih berhati-hati
19. Meminum jamu/ pil bagi wanita yang berusaha mencegah datang bulan (haidh) agar dapat berpuasa sebulan penuh, maka hal ini tidak mengapa dengan syarat hal tersebut tidak membahayakan baginya. Namun yang lebih afdhal baginya adalah membiarkan kebiasaan haidhnya dan mengqadha puasanya sesudah itu, karena demikianlah yang dilakukan oleh isteri-isteri Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan isteri-isteri generasi salaf.
20. Darah istihadhah (pendarahan pada rahim) tidak mempengaruhi sahnya puasa
Orang-orang yang boleh berbuka
Diantara rahmat Allah عز و جل yang agung kepada hamba-hamba-Nya yang lemah adalah memberi rukhsah (keringanan) pada mereka untuk berbuka, dan diantara mereka adalah :
1. Musafir
Allah عز و جل berfirman :
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أ َيــَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسر البقرة : 185
“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al Baqarah : 185)
Dan sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم :
 لَـيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّـوْمُ فِي السَّفَرِ. رواه البخاري و مسلم
“Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Orang Sakit
Allah عز و جل membolehkan orang yang sakit untuk tidak berpuasa sebagai rahmat dari-Nya dan kemudahan bagi orang yang sakit tersebut. Sakit yang yang dimaksudkan adalah sakit yang apabila dibawa berpuasa maka akan menyebabkan suatu mudharat atau semakin parah penyakitnya atau dikhawatirkan akan memperlambat proses penyembuhannya, hal ini berdasarkan firman Allah عز و جل di surat Al Baqarah ayat 185.
Adapun sakit ringan seperti batuk, pusing dan sejenisnya, tidak boleh berbuka karenanya.
3. Haid atau Nifas
Ummul Mu’minin Aisyah رضي الله عنها berkata :
 كَانَ يُصِيبُــنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّـوْمِ وَلاَ نُـؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ. رواه البخاري و مسلم
“Kamipun ketika puasa mendapatkan haidh, namun kami hanya diperintahkan untuk mengqadha puasa, tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Wanita atau laki-laki yang lanjut usia yang sudah tidak berdaya dan setiap harinya makin bertambah lemah hingga meninggal dunia, maka keduanya tidak wajib untuk berpuasa. Berkata Ibnu Abbas رضي الله عنهماketika menafsirkan ayat :
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيـَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ. البقرة :184
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin” (QS. Al Baqarah :184)
Beliau mengatakan : “Orang yang dimaksud adalah laki-laki dan perempuan yang lanjut usia yang tidak mampu untuk berpuasa, maka keduanya harus memberi makan setiap harinya satu orang miskin”
Adapun orang tua yang sudah lupa ingatan dan pikun maka ia tidak berkewajiban apa-apa begitupula keluarganya karena ia sudah bebas dari beban kewajiban. Namun apabila terkadang ingat terkadang tidak maka ia wajib berpuasa di waktu masih ada ingatannya dan tidak wajib di waktu hilang ingatannya
5. Wanita hamil dan menyusui
Wanita hamil atau menyusui di bolehkan berbuka puasa, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم :
 إِنَّ اللهَ تَعَالَى وَضَعَ ….عَنْ الْحَامِلِ أَوْ الْمُرْضِعِ الصَّــوْمَ  رواه أصحاب السنن
“Sesungguhnya Allah memberi keringanan puasa ……bagi wanita hamil dan menyusui” (HHR. Ashabussunan)
Dan jika udzur tersebut telah hilang maka wanita hamil atau menyusui mengganti puasa yang ia tinggalkannya
Semoga Allah عز و جل tetap menolong kita untuk selalu ingat dan bersyukur kepada-Nya, serta beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya, dan semoga Allah عز و جل menutup bulan suci Ramadhan ini dengan memberikan ampunan-Nya kepada kita dan memasukkan kita sebagai orang-orang yang bertaqwa. Amin
Sabruddin
Maraji’
1. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq
2. Sab’un masalah fish Shiam, Syaikh Muhammad Shalil Al Munajjid

Sponsored Ad

Related Posts